terlalu baik bisa jadi nggak baik

Kadang kita lupa, mewajarkan banyak hal bisa jadi sumber bencana. Mewajarkan bahwa perasaan kita bisa dikesampingkan dan harus mengutamakan perasaan orang lain, misal. Sebenernya, mewajarkan hal – hal yang terjadi dalam kehidupan diperbolehkan asalkan kita tau batasan; we should know our setting boundaries, because empathy without boundaries is self destruction.

Belakangan ini, orang – orang makin sadar dengan ‘people pleaser’ atau ‘good-girl syndrome’. Karena udah banyak yang bahas ini, aku gabakal bahas ini lagi yaa, so much source that you can search if you wanna know more about them.

Apapun sebutannya, ntah people pleaser ataupun good-girl syndrome, intinya dua penyebutan ini berkaitan dengan mewajarkan segala hal yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita, endingnya kita merasa bahwa membahagiakan orang lain adalah tujuan utama dan menjadikan diri sendiri di urutan paling belakangan.

Kalo kamu ngerasa hal ini nggak ada salahnya karena kita gaboleh jadi manusia yang egois, mungkin bisa dibedah lagi apa definisi dari egois itu sendiri. Egois itu kalo kita bener – bener mementingkan diri kita diatas segalanya dan nggak memikirkan siapa – siapa, kalo kamu ngerasa dengan mementingkan orang lain jadi obat dari sifat egois tentunya nggak tepat, karena kita ini manusia yang identik dengan dua arah.

Menjadi egois itu salah karena cuman se arah, karena kita hanya memikirkan diri sendiri. Terus kalo di obati dengan menjadi seorang ‘people pleaser’ yang notabene juga se arah karena hanya mementingkan orang lain tanpa mengindahkan diri sendiri, terus apa bedanya?:( kan sama – sama nggak membuat kita menjadi seseorang yang menciptakan suasana dua arah, do you get the point?

Kadang, aku suka sebel sama orang yang dia merasa dirinya lah yang harus bertanggung jawab atas segala kebahagiaan orang lain dan ujung – ujungnya selalu ngerasa jadi korban ketidakadilan, ayolah kita ini manusia ada banyak hal yang diluar jangkauan, kita nggak bisa melakukan semua hal.

Terlepas dari rasa sebel yang ku rasain, aku sadar kok, orang yang melakukan ketidaktepatan atau bahkan kesalahan nggak bisa disalahkan sepenuhnya karena bisa aja mereka melakukan itu karena belum tau atau belum sadar. Bisa aja mereka yang menganggap jadi seorang ‘people pleaser’ adalah sebuah jawaban yang tepat karena mereka nggak tau kalo sebenernya hal itu nggak tepat. Mungkin karena mereka belum bisa mengidentifikasi apa saja perilaku yang dilakukan manusia ketika berkomunikasi. So, let's start identifying!


Perilaku manusia dalam berkomunikasi untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang lain dibagi menjadi tiga macam yaitu agresif, submisif, dan asertif. Mari kita bedah satu – satu:)

(1) Agresif

Seseorang dikatakan agresif ketika dia hanya mementingkan kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Orang – orang agresif menyampaikan pendapatnya dengan mengintimidasi, menuntut, atau memerintah. Orang tipe ini hanya fokus mengucapkan apa yang ingin mereka dapatkan tanpa memberikan pertimbangan kepada orang lain.

Contoh perkataan agresif: "gak ah, kerjain aja sendiri!"

(2) Submisif

Seseorang dikatakan submisif ketika dia mementingkan kebutuhan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Orang – orang submisif selalu ragu – ragu dalam menyampaikan pendapatnya, mereka selalu mengalah dan mengikuti perkataan orang lain.

Contoh perkataan submisif: "aku ada janji, tapi yasudah sini aku bantu kerjain tugasmu"

(3) Asertif

Seseorang dikatakan asertif ketika dia dapat menyeimbangkan antara kebutuhan dirinya sendiri dan orang lain. Orang – orang asertif selalu berani mengungkapkan pendapatnya tapi juga memikirkan perasaan lawan bicaranya. Mereka memberikan ruang kepada orang lain untuk memberikan pertimbangan.

Contoh perkataan asertif: "aku gabisa bantu ngerjain tugasmu sekarang, aku ada janji, mending kamu kerjain sendiri dulu, nanti kalo urusanku udah selesai dan kamu masih mengalami kesulitan aku bantu, gimana? Aku usahain nggak lama kok perginya"


Nah, dari sini udah tau kan ya gimana harusnya kita bersikap dan berkomunikasi? Iya, harusnya kita jadi orang – orang asertif bukan jadi orang submisif yang identik dengan people pleaser.

Menurut jurnal forum psikologi ASEAN yang ditulis oleh Yanuarty Paresma Wahyuningsih, orang yang memiliki perilaku submisif merupakan salah satu individu yang terkena disabilitas intelektual. Jadi bisa dikatakan orang yang menjadi ‘people pleaser’ memiliki disabilitas intelektual karena mereka cenderung merasa lebih rendah diri dan tidak berani mengungkapkan isi hati dan tentunya hal ini menghambat mereka untuk berperilaku secara asertif. Seorang people pleaser akan cenderung berperilaku lebih keras terhadap dirinya sendiri, They will be 25 with an 8 year old mindset and thought process.

Lalu, kenapa sih banyak mereka yang jadi people pleaser? menurut ilmu psikologi, people pleaser often start off as parent pleasers. Artinya apa? jika seorang anak ada di keluarga yang harus terus merasa bertanggung jawab dalam memenuhi segala kebutuhan orangtuanya, maka seorang anak nggak akan mengenali kebutuhannya sendiri. Dan anak ini, yang nantinya punya keluarga, juga akan melanjutkan kebiasaan orangtuanya ke buah hatinya, ini kayak jadi lingkaran setan karena rasa trauma yang dialami secara psikologi tanpa disadari, and is more likely to end up in an abusive, codependet relationship. They often grow up to be people-pleasers and will wonder why no one appreciates all they do. 

Aku nggak nyuruh kalian buat ngebangkang orangtua, tapi maksudnya, kita sebagai manusia juga berhak untuk menyuarakan pendapat kepada siapapun itu, dan harus tau gimana sih menyalurkan pendapat itu, jangan jadi seseorang yang agresif dalam menyuarakan pendapat, tapi jadilah seseorang yang asertif, dan jangan lupa, nanti kalo udah punya keluarga, berilah pendekatan perilaku kepada anak yang menciptakan sikap asertif, misal memberikan ruang kepada anak untuk memilih mainan mana yang dia inginkan dan mintalah alasan kenapa mereka milih mainan itu. Aku selalu percaya hal - hal besar selalu dimulai dari hal - hal kecil. Semoga kita menjadi generasi yang bijak dalam segala keadaan yaa, dan tidak mewajarkan hal yang sebenernya gaboleh diwajarkan.

The last but not least, ternyata terlalu baik bisa jadi nggak baik, kayak yang aku tulis dijudul ini karena kita bisa termasuk ke orang – orang submisif, dan kalo kita gaada tekad buat berubah, kita bisa digolongkan dengan orang – orang yang mengalami disabilitas intelektual. Jadi, mari berbenah, mari menemukan arah:)

Jangan lupa:
You are important,
You are special,
You are unique,
You are kind,
You are precious,
and You are loved.

Sekian dulu yaa, see ya on the next post!<3

Salam sayang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

hijrah nggak melulu tentang jadi syar’i

terrarium